Senin, 16 Desember 2013

Carut Marut Pendataan Pendidikan



“Keputusan yang tepat berdasarkan data yang tepat”

Semua orang manajemen pasti paham dengan kalimat tersebut. Demikian pula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang memegang kendali menejerial semua aktivitas dalam dunia pendidikan di Indonesia, melalui semua orang pintar nan hebat didalamnya telah merancang dan mengaplikasikan model-model pendataan yang tentunya dengan satu tujuan, mendapatkan data yang tepat itu.

Seiring berlakunya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, mulai tahun 2006 bergulir pula istilah DAPODIK kependekan dari Data Pokok Pendidikan yang merupakan gabungan dari tiga unsur utama yaitu Data Lembaga, Data Siswa dan Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Dalam perkembangannya tiga unsur tersebut melahirkan istilah baru yaitu NISN (Nomor Induk Siswa Nasional), NPSN (Nomor Pokok Sekolah Nasional) dan NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dimana ketiganya menjadi database utama yang digunakan kemendikbud dalam menjalankan semua program-programnya baik program peningkatan mutu, penguliran bantuan, pemberian tunjangan dan sebagainya.

Dengan adanya database nasional diharapkan program-program kemendikbud dapat dijalankan sesuai prinsip Tepat Guna, Tepat Waktu dan Tepat Sasaran. Akan tetapi ibarat jauh panggang dari api, hingga sepuluh tahun usia undang-undang sisdiknas tujuan mulia itu belum benar-benar bisa diwujudkan.
Misalnya program sertifikasi guru yg dimulai th 2006 sebagai implementasi UU Guru dan Dosen Tahun 2005, dimana ada persyaratan peserta sertifikasi HARUS PUNYA NUPTK, ternyata pelaksanaan sertifikasi empat tahun pertama (2006 - 2009) tidak semua peserta sudah memiliki NUPTK sehingga oleh pengelola waktu itu asal main tembak dengan mencantumkan “NUPTK DARURAT” bahkan “DIPINJAMI  NUPTK” atas nama orang lain.

Tentu saja tindakan semacam ini berbuntut permasalahan yng tidak mudah penyelesaiannya di belakang hari. Untuk peserta sertifikasi dengan NUPTK darurat baru terasa tahun ini ketika banyak SK Tunjangan Profesi sebagai dasar pembayaran Tunjangan tidak bisa terbit karena yang bersangkutan tidak bisa ditemukan NUPTK yang sebenarnya alias sampai saat ini belum memiliki NUPTK. Demikian juga yang menggunakan NUPTK pinjaman berdampak pada pemilik syah NUPTK tersebut menjadi tidak bisa mengikuti proses sertifikasi guru dikarenakan NUPTK-nya sudah tercatat dalam data kelulusan meskipun yang menikmati adalah orang lain.

Tidak kalah semrawutnya adalah database siswa yaitu NISN, dimana proses pengajuan NISN yang begitu lancar pada tahun-tahun awal, saat ini menjadi begitu susah sehingga banyak peserta Ujian Nasional dari berbagai jenjang yg hingga lulus ujian belum juga memiliki NISN. Setali tiga uang proses penerbitan NPSN sebagai data base lembaga, karena fakta di lapangan banyak sekolah yang sudah lama eksis tapi belum memiliki NPSN sementara tidak sedikit sekolah-sekolah baru yang justru sudah mengantongi nomor pencatatan dalam database nasional tersebut. Bahkan tahun ini ada perubahan NPSN besar-besaran khususnya di jenjang pendidikan anak usia dini (TK), akan tetapi sampai saat tulisan ini dibuat belum pernah ada sosialisasi sampai tingkat terbawah.

Ketidak siapan perangkat pendataan dan sumber data

Banyak hal harus diurai dan patut dicrurigai sebagai sumber carut marut ini. Yang pertama harus dikaji tentunya perangkat pendataan dari pusat (kemdikbud) yang sejak awal bertekad memanfaatkan kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai media pengumpulan dan pengolahan data. Selama ini setiap muncul aplikasi pendataan dari pusat hampir pasti tidak didahului kesiapan baik SDM maupun infrastruktur di bawah. Lelucon bernada sindiran masih sering terdengar bahwa pola pelatihan / Bintek adalah satu minggu di pusat, tiga hari di propinsi, satu hari di kabupaten/kota dan sampai di sekolah yang tersisa hanya fotokopi slide materinya saja.

Tentu saja kebiasaan turun temurun ini menjadi kendala teramat besar dalam upaya mendapatkan data valid dari sumber data. Apalagi tingkat penguasaan IT di tingkat sekolah tentu jauh dari bayangan orang-orang pusat. Ditambah lagi kebiasaan di sekolah dimana semua hal adminstrarif dikerjakan oleh pegawai administrasi yang nota bene juga tidak banyak menguasai ketrampilan penggunaan IT. Apalagi untuk jenjang pendidikan TK dan SD yang memang tidak ada petugas administrasi dimana untuk data-data administratif akhirnya diborong oleh petugas di tingkat kecamatan yang jumlahnya juga sangat – sangat terbatas.

Di tingkat Kabupaten / Kota pun tidak kalah perannya dalam menyumbangkan kecarutmarutan data ini. Seperti kita ketahui adanya Undang-undang otonomi daerah, seorang kepala daerah dengan segala kepentingan politisnya bisa dengan mudah menempatkan orang-orangnya di lingkungan dinas pendidikan. Tak jarang terdengan suara sumbang, ada pejabat dari dinas pemakaman atau dokter hewan yang tiba-tiba menjadi kepala dinas pendidikan. Demikian pula dengan staf-staf yang menangani pendataan, bukan hal baru jika setiap tahun ada pergantian staf yang dengan alasan tertentu pula staf lama tidak mewariskan data terdahulu kepada staf baru. Tidak banyak dinas pendidikan yang menerapkan manajemen arsip dengan baik.

Dan setiap kali ada petugas baru maka pendataan selalu diawali dari nol lagi, yang tentunya dengan pemahaman yang berbeda antara staf lama dengan staf baru akan menimbulkan kebingungan sumber data yang mengakibatkan banyaknya data-data manipulatif dan tidak valid. Kasus membengkaknya berlipat-lipat jumlah GTT/PTT yang masuk databse K-2 BKN tahun 2011 dan akan diselesesaikan tahun 2013 ini adalah bukti nyata betapa menejemen data di lingkungan pemerintahan kita khususnya di kementerian pendidikan dan kebudayaan masih sangat-sangat memprihatinkan.

Akan tetapi sebesar-besarnya faktor sekolah dan dinas pendidikan kabupaten / kota sebagai penyebab kecarutmarutan data ini, ternyata masih jauh dibanding peran Kemendikbud sendiri sebagai pemegang otoritas kebijakan bidang pendidikan di negeri ini. Kejelasan bagian mana yang menjadi pusat data hingga saat ini tidak pernah benar-benar ada. Menilik sejarah DAPODIK yang tertulis di http://dapodik.org/sejarah-dapodik, ternyata pada awal bergulirnya dapodik yang dikelola Biro PKLN hanya berkutat pada NISN dan NPSN sementara NUPTK berada di Ditjen PMPTK (http://kusdiantoro.com/downloadnuptk/latarblk.html)

Seperti bisa dibaca dari sejarah dapodik di alamat diatas, setelah terbengkalai selama beberapa tahun, sekarang pengelolaan NISN dan NPSN ada di Pusat Data Statistik Pendidikan (PDSP). Sedangkan NUPTK ada di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan (BPSDMPK). dan sempat tidak ada aktivitas juga selama tahun 2012 kemarin baik pelayanan pengajuan NUPTK baru maupun aktivitas lain padahal NUPTK menjadi syarat wajib mengikuti berbagai program kegiatan Kemendikbud yang berhubungan dengan PTK, sementara hingga sekarang pun masih ratusan ribu PTK yang belum ber-NUPTK.

Idealnya ketiga data tersebut berada dalam satu bagian, dalam hal ini yang paling tepat sesuai namanya tentunya PDSP singkatan dari Pusat Data Statistik Pendidikan, sementara Badan, Ditjen dan lain-lain dalam struktur kemendikbud hanya menjadi pengguna data yang disediakan PDSP. Dengan catatan ada keikhlasan dan iktikad baik dari semua jajaran di kemendikbud untuk saling memberi dan menerima serta menggunakan orang-orang terbaik dan berpengalaman dalam bidangnya untuk bersama-sama mengelola data sehingga sejarah hitam pengalihan dapodik (NPSN dan NISN) dari biro PKLN ke PDSP tidak terulang lagi.

2013 Tahun Kebangkitan Data Pendidikan Nasional

Beberapa waktu terakhir berdengung semboyan dikalangan pengelola data pendidikan yaitu “Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Satu Data”. Tentunya semboyan tersebut mengandung semangat adanya data valid, akurat, akuntable dan bisa dipercaya di bidang pendidikan yang bisa menjadi acuan bagi semua stake holder yang berkompeten dalam dunia pendidikan. Merunut kebelakang, yang dimakasud SATU DATA disini tentunya Data Pokok Pendidikan atau DAPODIK yang merupakan gabungan dari tiga unsur yaitu NPSN, NISN dan NUPTK seperti halnya definisi dapodik versi wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Data_pokok_pendidikan)

Hanya patut disayangkan jika semangat kesatuan dan persatuan tersebut ternyata masih belum merasuk ke dalam jiwa semua orang yang terlibat dalam pendataan di tingkat pusat. Mungkin karena banyaknya “kepentingan” yang ikut bicara sehingga sulit mencapai kata sepakat. Bahkan menjadi aneh rasanya ketika DAPODIK yang seharusnya berada di tingkat kementerian saat ini justru dipersempit menjadi level direktorat jenderal, sehingga memunculkan istilah DAPODIK DIKDAS, DAPODIK DIKMEN dan DAPODIK PAUDNI. Keanehan semakin menjadi-jadi ketika pengelola dapodik level dirjen mengklaim bahwa datanya paling valid dan uptodate sehingga layak menjadi barometer data secara keseluruhan. Bukankah data yang dimiliki tidak menjangkau diluar dirjennya?

Saat ini masyarakat pendidikan level bawah merindukan adanya kepekaan nurani dari para penentu kebijakan dari Jakarta agar sesegera mungkin menyelesaikan persoalan internal disana sehingga tidak semakin membuat resah yang ada di bawah. Karena apapun perintah dari pusat pasti akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya selama perintah itu jelas dan tidak membingungkan serta tidak mengulang-ulang pekerjaan yang sama untuk tujuan yang berbeda-beda. Seperti halnya entry data individu siswa atau data individu PTK, seharusnya cukup diwakili NISN dan NUPTK sehingga dapodik versi dikdas atau versi yg lain tidak perlu entry data itu – itu lagi, karena toh data yg dibutuhkan sudah tersedia di depan meja mereka.

Dan penulis yakin, teramat yakin bahwa secara teknis dengan pesatnya kemajuan bidang Teknologi informatika hal itu sangat mudah dilakukan, selama masing-masing pihak mau mengendalikan diri untuk tidak menomorsatukan kepentingan diri dan kelompoknya, apalagi jika kepentingan itu bernama PROYEK ataupun Prestise Jabatan.

Salam Kebangkitan Nasional Data Pendidikan Indonesia.

Kamis, 24 Oktober 2013

Cara Membuka Subtitle di Gom Player

1.Download Gom Player DISINI
   Download Skin DISINI
2.Buka Film
3.Klik Open Subtitle
4. Pilih Subtitle, klik Open
5. Selesai

Kamis, 17 Oktober 2013

Jual Nama Hasan Tiro dan Abdullah Syafi'i untuk Mendapatkan Pangkat Maupun Jabatan

"Satu hal yang patut dan harus diingat oleh bangsa ini, bahwa AS dan HT tidaklah berjuang untuk ikut Pemilu Indonesia untuk setiap lima tahun sekali. Mereka adalah para Pemikir dan Pejuang yang ingin Memerdekakan Aceh dalam artian yang sesungguhnya. Maka tidak pantas dan sebuah penghinaan, bila foto keduanya digunakan dispanduk Partai dan spanduk Caleg. Sebab HT dan AS bukanlah Jurkam"

MEUKEK_Online | 17-10-2013 - Mereka adalah lelaki yang luar biasa. Hasan Tiro  (HT) adalah penggagas ide Aceh Merdeka yang kemudian maujud dalam bentuk ASNLF atau didalam Negeri disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sedangkan Abdullah Syafi’i (AS), adalah pengikut setia HT, yang “Syahid” di medan tempur demi tegaknya ideologi Aceh Merdeka yang diimpikannya sejak dia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok HT.
Tgk. Hasan Di Tiro

Kedua lelaki keren itu, telah pergi menghadap Tuhan-Nya. Pergi dengan ideologi dan keyakinan yang masih meletup-letup tentang gagasan Memerdekakan Aceh dari Penjajahan Indonesia.

Seorang teman pernah berkata kepada saya, bahwa baik HT maupun AS merupakan berliannya Aceh yang pernah dilahirkan dari rahim perempuan yang luar biasa. Mengapa? Sebab mereka adalah para pemegang janji, dan pemberi Tauladan tentang Keistiqamahan bertahan dalam sebuah cita-cita, tanpa perlu mengkhianati dengan berbagai cara.

Terlepas AS yang kematiannya penuh kontroversi, juga HT yang disebut-sebut sejak 90-an sudah kehilangan kendali terhadap GAM yang ada di Aceh. Mereka berdua tetaplah Legenda bagi Aceh yang semakin sulit untuk mencari tandingannya. Apalagi dalam konteks kesabaran, istiqamah dan kesederhanaan, juga jujur dan baik hati.

HT selama hidupnya hanya memperlihatkan bahwa garis politiknya itu hanyalah GAM. Demikian juga dengan AS. Mereka adalah pecinta Bendera Bulan Bintang dan Lambang Singa Buraq yang sejati. Mereka mencintai semua itu dengan jabatan yang tanpa gaji dan tunjangan. Konon lagi dapat uang konsultasi hukum, uang rapat, serta biaya studi banding ke luar daerah.

Namun, pasca damai Helsinki, kedua lelaki ini sering digunakan foto wajahnya oleh eks-eks GAM yang telah berpolitik praktis dengan membentuk Partai Politik Lokal (Parlok). Seolah partisan dan parsial, kedua Legenda Aceh itu selalu dipampang wajahnya di spanduk-spanduk politik.

Entah apa yang ada dibenak para pelaku pemampang foto itu. Mungkin mereka berpikir bahwa kedua lelaki hebat itu masih seperjuangan dengan mereka dibawah RI. Padahal, menurut beberapa teman eks kombatan yang non partisan, kedua lelaki hebat itu tidak pantas digunakan foto wajahnya untuk kepentingan Pemilu.

Mengapa? Sebab sampai menghembuskan nafas terakhir, AS tidak pernah terdaftar sebagai anggota Partai Politik Lokal (bahkan saat kematiannya, benih Partai Politik Lokal belum lah ada di Indonesia). AS adalah Panglima AGAM yang berjuang demi tegaknya entitas politik ke-Aceh-an dalam bentuk sebuah Negara.


Sedangkan HT lebih ekstrim lagi. Beliau adalah The Real President for Aceh, yang saat ajal menjemputnya, masih berstatus Wali Neugara Aceh Sumatera (Penobatan dia sebagai Warga RI merupakan proses politik yang dilakukan oleh pengikutnya).
Tgk. Abdullah Syafi'i

“Tidak adil dan merupakan sebuah penghinaan yang sangat besar kepada Hasan Tiro dan Abdullah Syafi’i, ketika foto keduanya dijadikan gambar politik oleh Partai Politik Lokal dalam spanduk Pemilu mereka,” ujar sang teman tadi.

Lalu saya bertanya: “Seharusnya bagaimana keduanya diperlakukan?”

Sang teman kemudian menjawab: “Kalau lah tidak bisa menjaga, setidaknya jangan campur adukan antara perjuangan mereka dengan kepentingan untuk menguasai daerah dibawah payung RI setelah damai di teken di Helsinki,”

Satu hal yang patut dan harus diingat oleh bangsa ini, bahwa AS dan HT tidaklah berjuang untuk ikut Pemilu Indonesia setiap lima tahun sekali. Mereka adalah para pemikir dan pejuang yang ingin memerdekakan Aceh dalam artian yang sesungguhnya. Maka tidak pantas dan sebuah penghinaan, bila foto keduanya digunakan di spanduk partai dan spanduk caleg. Sebab HT dan AS bukanlah jurkam.

DAMPAK HASUD SECARA MEDIS & PSIKOLOGIS



Hadits di bawah ini terdapat dalam sunan Tirmidzi, hadits nomor 1858. Imam Tirmidzi mengatakan derajat hadits ini hasan shahih. Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzy Syarah Sunan Tirmidzi disebutkan bahwa hadits ini diriwatkan pula oleh Malik, Al-Bukhari (bab adab, hadits no 5604), Abu Dawud (bab adab, hadits no 4264), An-Nasa’I dan Muslim (bab al-birru wa ash-shilah, hadits no 4642).
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ الْعَطَّارُ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَالزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ
 Adapun hadits dari Abu Bakar Ash-Shidiq diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, hadits dari Jubair bin Awwam diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Bazzar dengan sanad jayyid, juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqy. Adapun hadits dari Ibnu Umar diriwayatkan oleh At-Tirmidzy setelah hadits di atas, hadits dari Ibnu Mas’ud diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkannya  secara ringkas dalam bab prasangka buruk[1].
Karena hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, tak diragukan lagi oleh mayoritas umat Islam bahwa kedua kitab hadits ini merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Karena hadits-hadits dalam kedua kitab ini terkenal dengan shahih dan marfu’ dengan para rawi yang adil dan dlabit.


[1] Abu Al-‘Ula Muhammad Abdurrahman Bin Abdurrahim Al-Mubarakfury, Tuhfatul Ahwadzy BI
   Syarh Jami’ At-Tirmidzi, (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, tt), juz 6, hlm. 55-56


Dua hadits tentang hasud berikutnya diriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah dan Anas Bin Malik dan keduanya dinilai shahih dan hasan lighairihi oleh ahli hadits 
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَصُدُّ هَذَا وَيَصُدُّ هَذَا وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ


حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

Hasud atau dengki adalah sifat yang sangat tercela dan berbahaya bagi seorang muslim. Penyakit hati yang satu ini bisa menimbulkan berbagai penyakit hati lainnya, merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan dan mematikan kreatifitas. Oleh sebab itu pula kita harus selalu memohon perlindungan pada Allah dari sifat yang satu ini. Sebagaimana firman-Nya:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ .وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ .وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 
.
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. (QS. Al-Falaq: 1-5)[1]
Arti hasad atau dengki ialah apabila seseorang merasa sempit hati, serta kurang senang melihat orang lain memperoleh nikmat/karunia dari Allah, baik dalam urusan agama ataupun dunia, serta mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut, senang melihat orang lain susah, tidak mempunyai rahmat dan belas kasihan serta suka berprasangka buruk terhadap orang lain. Semua itu ialah sifat-sifat yang membinasakan[2].
Menurut Imam Al-Ghazali hasad memiliki dua tingkatan: pertama, Anda tidak suka orang lain mendapatkan nikmat dan Anda ingin menghilangkannya; kedua, keinginan memperoleh nikmat serupa yang dimiliki orang lain, tanpa bermaksud atau berharap hilangnya nikmat itu pada orang lain, ini yang biasa disebut dengan istilah ghibthah[3].

[1] Departemen Agama RI., Al-Quran Dan Terjemahnya. (Semarang: CV. Toha Putra, 1990). Hal. 1120
[2] Ustadz Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf, Menjauihi Sifat Dengki (Online:   hffp://pondokhabib. wordpress. com)
[3] Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya Ulum Ad-Din, (Beirut: Dar Al-Ma’rifah, tt), juz 3, hlm. 189

1. Macam-Macam Hasud 
            Sabda Nabi لاَ تَحَاسَدُوْا, artinya, jangan sebagian kalian dengki kepada sebagian yang lain. Sifat dengki sering muncul watak manusia, hal ini karena manusia tidak suka diungguli orang lain dalam kebaikan apa pun. Menurut Imam Al-Ghazali, hasud itu terdiri dari  3 macam:

  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang dan ia dapat menggantikannya.
  • Menginginkan agar kenikmatan orang lain itu hilang, sekalipun ia tidak dapat menggantikannya, baik karena merasa mustahil bahwa dirinya akan dapat menggantikannya atau memang kurang senang memperolehnya atau sebab lain-lain. Pokoknya asal orang itu jatuh, ia gembira. Ini adalah lebih jahat dari kedengkian yang pertama.
  • Tidak ingin kalau kenikmatan orang lain itu hilang, tetapi ia benci kalau orang itu akan melebihi kenikmatan yang dimilikinya sendiri. Inipun terlarang, sebab ia jelas tidak ridha dengan apa-apa yang telah dibagikan oleh Allah[1].
Ketiga jenis hasud di atas sangat tercela, seperti kita ketahui bahwa yang menyebabkan Iblis mendapat laknat Allah juga karena adanya sifat dengki ini, ia tidak mau sujud pada Nabi Adam, karena Iblis tidak rela Adam mendapatkan nikmat dan karunia dari Allah, kesombongan Iblis membuatnya merasa dengki pada Adam dan berusaha terus-menerus untuk mengeluarkan Adam dari surga. Begitu pula yang terjadi pada keturunan Adam, kedengkianlah yang menyebabkan pembunuhan pertama di muka bumi oleh Qabil pada Habil. Kedengkian pula lah yang melekat pada orang-orang Yahudi, mereka tidak pernah rela apabila manusia beriman kepada Allah dan menjadi muslim yang taat. Sebagaimana firman-Nya:
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah: 109)[2]
            
Namun ada juga sifat dengki yang di perbolehkan, imam Al-Ghazali menamakannya dengan ghibtah atau mufasah. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
عن ابنِ مسعودٍ رضيَ اللهُ عنه قال: سمعتُ النبيِّ صلى الله عليه وسلم يقول لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتاهُ اللهُ مالاً فَسَلَّطَهُ عَلىَ هَلَكتهِ في الحَقِّ، ورَجُلٍ آتاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقضِي بِهَا ويُعلِّمها. (رواه البخاري([3]
Dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah S.a.w bersabda: Tidak dibenarkan hasad kecuali dalam dua hal; terhadap seseorang yang diberi anugerah oleh Allah berupa harta lalu dia menafkahkannya di jalan yang benar, dan terhadap seseorang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. (HR. Bukhari ) 
Dari hadits ini, Nabi SAW memberikan penjelasan kepada kita bahwa yang boleh membuat kita hasud dari orang lain adalah amal shalehnya, bukan kebendaannya. Kita boleh hasud kepada orang kaya, tetapi bukan karena kekayaannya melainkan perbuatannya menafkahkan kekayaannya itu di jalan yang benar. Demikian pula dengan ilmu, kita diperbolehkan hasud kepada orang yang berilmu, tentu saja bukan karena ilmunya, melainkan karena perbuatannya dalam mengamalkan dan mengajarkan ilmunya pada orang lain...
2. Penyebab Hasud
            Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum Ad-Din[4], ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terkena penyakit dengki, yaitu:
a.   Permusuhan dan kebencian. Ini adalah sebab yang paling banyak menimbulkan kedengkian. Karena siapa yang disakiti oleh seseorang, hatinya pasti marah lalu membenci orang yang menyakitinya itu, maka tertanamlah bibit dengki dalam dirinya. Dengki mengundang perlakuan yang agresif untuk memuaskan hatinya. Intinya penyakit dengki ini senantiasa berbarengan dengan marah, kebencian dan permusuhan..
b.   Merasa mulia. Dia tidak rela kalau ada orang lain melebihinya. Kalau ada orang lain yang mendapat pangkat, ilmu dan harta atau lainnya yang lebih mulia dari dirinya, dia tidak merasa senang, merasa dirinya terusik dan tersaingi. sehingga timbul kedengkian dalam hatinya.
c.     Sombong (takabur). Seseorang yang sombong selalu membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Dia ingin orang lain selalu mengikutinya, menuruti perintahnya. Dia takut kalau ada orang lain yang mendapat kemuliaan seperti dirinya, karena dia khawatir kehilangan pengikutnya.
d.   Ujub atau merasa diri paling pantas dimuliakan. Sifat ‘ujub inilah yang merusak umat-umat terdahulu, sehingga mereka merasa dengki terhadap rasul-rasul mereka yang di beri kemuliaan oleh Allah.
e.      Berlomba-lomba untuk memperoleh sesuatu atau meraih posisi tertentu. Dalam posisi ini biasanya timbul persaingan tidak sehat dan saling menjatuhkan karena kedengkian pada pesaingnya.
f.       Keburukan jiwa. Hati yang kotor dihinggapi sifat dengki, dia merasa senang jika melihat orang lain susah dan merasa susah jika melihat orang lain senang.
3. Dampak Hasud
            Sebagaimana disebutkan dalam hadits ketiga pada pembahasan makalah ini, dampak dari hasud adalah habisnya amal kebaikan. seperti api memakan kayu bakar. Sia-sia orang yang bersifat hasud karena amal baiknya habis terkikis. Selain itu, ada beberapa dampak hasud lainnya, diantaranya sebagai berikut:
a. Dampak Bagi Keimanan
  1. Orang yang bersifat hasud berarti dia tidak ridha dengan pembagian nikmat dan karunia dari Allah bagi hamba-hamba-Na. Dia membenci ketetapan Allah, dengan demikian secara tidak langsung ia juga membenci Sang Pemberi Nikmat itu sendiri. Dan ini bukanlah sifat orang yang beriman, bahkan lebih cenderung mendekati kekufuran. Padahal sekuat apapun hasud, tidak akan bisa menghalangi nikmat dan karunia yang Allah berikan pada seseorang.
  2. Sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 109, bahwa hasud adalah sifat orang-orang Yahudi dan bukan sifat orang beriman. Dengan demikian, bersifat hasud berarti menyerupai orang-orang Yahudi. Sedangkan Rasulullah SAW sendiri melarang seorang muslim untuk tasyabuh dengan orang-orang kafir.
  3. Menyerupai orang munafik. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan orang lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)
  4. Tidak dapat melihat kebenaran. Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)
  • Sifat hasud dapat menghilangkan kesempurnaan iman, karena ia tidak menyukai orang lain mendapat kenikmatan dan kebahagiaan. Dan hal ini tidak sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُـحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُـحِبُّ لِنَفْسِهِ
  •   Sifathasud dapat melalaikan seseorang dari memohon nikmat kepada Allah. Karena dia meremehkan nikmat Allah yang ada pada dirinya.
b. Dampak Secara Psikologis
  • Orang yang hasud akan selalu merasa sedih dan susah, tertekan serta frustrasi, karena orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia selalu terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya. Sedangkan apa yang telah ditentukan Allah tidak akan bisa di ubah oleh siapapun.
  • Meruntuhkan kredibilitas. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.
  • Tidak mampu memperbaiki diri sendiri. Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.
  • Membebani diri sendiri. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sumpek. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)
c. Dampak Bagi Kesehatan
  1. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa orang yang hasud akan selalu berfikiran negatif pada orang yang didengkinya. Padahal berfikiran negatif sangat buruk bagi kesehatan, sebagaimana diungkapkan ilmuwan asal Jepang, Prof. Masaru Emoto dalam bukunya Efek kesehatan dari pikiran negatif mengatakan jika sering membiarkan diri kita stress maka kita akan mengalami gangguan pencernaan, jika sering membiarkan rasa takut yang berlebihan, akan mudah terkena penyakit ginjal dan jika suka marah bisa sakit hepatitis.
  2. Berdasarkan penelitiannya, Dr. Hamid Al-Gaubi mencatat dampak buruk sifat dengki terhadap kesehatan tubuh, antara lain :
  • Gangguan pada kelenjar Pankreas
  • Menimbulkan penyakit susah tidur (insomnia)
  • Membuat badan merasa letih, capek, tidak ada nafsu makan, berat badan menurun.
  • Timbul rasa nyeri di dada
  • Pusing dan telinga berdengung
  • Dapat memperparah luka lambung
  • Perubahan raut muka yang mengkerut[5]
4. Cara Mengobati Hasud
            Penyakit dengki ini memang termasuk penyakit hati yang sangat berat dan berbahaya. Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha membersihkan hati kita dari sifat dengki ini. Berikut ini adalah diantara beberapa cara untuk mengobati hati dari penyakit dengki.
  • Yang paling utama tentu saja kita mesti berdo’a, memohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Karena hanya Allah lah yang paling tahu keadaan hati hamba-hamba-Nya dan hanya Dia yang Maha Kuasa untuk membersihkan hati kita.
  • Untuk menghilangkan dengki, kita mesti mengetahui bahayanya, baik di dunia, secara psikologis dan kesehatan maupun di akhirat nanti, bagaimana orang yang berpenyakit hasud akan menghadapi mizan dan shirath, hari dimana tak ada yang tersembunyi sedikitpun dari diri kita dan tak ada amal sekecil apapun yang luput dari pengadilan Allah. Merenunginya secara mendalam, agar kita bisa bermuhasabah dan punya tekad yang kuat untuk menghilangkan sifat dengki dari dalam hati kita.
  • Dengan banyak beramal baik, memaksakan diri dengan melakukan amal kebaikan kepada orang yang kita dengki. Lakukan yang sebaliknya dari kedengkian, sambil memohon pertolongan Allah agar kedengkian itu semakin terkikis dan hilang sama sekali dari dalam hati.
  • Selalu mengingat mati, ini adalah salah satu cara yang ampuh dari Rasulullah SAW. Dengan mengingat kematian, berarti kita juga mengingat apa yang akan terjadi setelahnya.
  • Selalu berfikir jernih dan menahan emosi dengan sekuat tenaga, karena rasa marah ini selalu berujung kedengkian.
  • Tidak membalas kejelekan orang dengan keburukan, selalu berusaha bersikap ramah, lembut, memulai salam dan tidak sinis.
  • Selalu berusaha memaafkan semua kesalahan orang yang di sengaja ataupun tak di sengaja, menjaga tali silaturahmi dan senantiasa berbaik sangka.
    
            Hasud atau dengki sangat berbahaya bagi manusia, khususnya seorang muslim, karena selain merusak keimanan, menimbulkan kebencian, permusuhan, memutus silaturahmi dan persaudaraan, juga secara psikologis dan kesehatan dampaknya sangat merugikan serta sangat berat bagi kehidupan. Tentu saja kerugian di dunia ini jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang akan di derita di akhirat kelak, siapa yang tidak takut dengan siksa Allah yang amat pedih bagi para pendengki?.
            Sejak zaman dahulu, sebelum Rasulullah SAW datang membawa cahaya Islam di Mekkah, penyakit hasud ini sudah menghinggapi umat-umat terdahulu, sehingga membinasakan mereka. Dalam penutup makalah ini penulis cantumkan sebuah hadits tentang hal itu, sekaligus solusi praktis dari Rasulullah SAW bagaimana mengatasi penyakit dengki ini, agar menjadi renungan bagi kita semua. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ هِشَامٍ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ شَيْبَانُ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ هِشَامٍ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ حَالِقَةُ الدِّينِ لَا حَالِقَةُ الشَّعَرِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ[6]
Telah menceritakan Yazid Bin Harun, Hisyam mengabarkan dari Yahya Bin Abi Katsir dari Ya’isy Bin Al-Walid Bin Hisyam dan Abu Mu’awiyah Syaiban dari Yahya Bin Abi Katsir dari Ya’isy Bin Al-Walid Bin Hisyam dari Zubair Bin Awam ra. sesungguhnya ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong; pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Ahmad, hadits no. 1338)



[1] Khalil Idham Lim, Hasad Dengki Warisan Kederhakaan Iblis (Online: http://www.idhamlim.com)

[2] Departemen Agama RI., op. cit., hal. 30

[3] Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ju'fi Al Bukhari,
       Shahih Bukhari, (Mauqi’ Al-Islam: Al-Maktabah Asy-Syamilah, tt), juz 5. hlm. 217

[4] Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, op. cit., juz 3, hal. 192-193

[5] Hamid Al-Gaubi dkk., Ensiklopedia Mukjizat Alquran & Hadis; Buku 4: Psikoterapi Islam,
       (Bandung:PT Sapta Sentosa, 2010), hal. 11-17


[6] Abu Abdullah Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal Bin Hilal Bin Asad Asy-Syaibani, Musnad

       Ahmad, (Al-Maktabah Asy-Syamilah: Mauqi’ Al-Islam, tt) juz 3, hal. 347
Sumber: 

Departemen Agama RI. (1990), Al-Quran Dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra


Software Mausu’ah Al-Hadits Asy-Syarif


Al-Mizzi, Yusuf Bin Az-Zaky Abdurrahman Abu Al-Hajjaj (1980). Tahdzib Al-Kamal. Beirut: Muassasah Ar-Risalah (Al-Maktabah Asy-Syamilah)


Al-Atsqalany, Ibn Hajar (tanpa tahun). Tahdzib At-Tadzhib. Mauqi’ Ya’sub: Al-Maktabah Asy-Syamilah


Al-Ghazali,  Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad (tanpa tahun), Ihya Ulum Ad-Din. Beirut: Dar Al-Ma’rifah (Al-Maktabah Asy-Syamilah)


Al-Mubarakfury, Abu Al-‘Ula Muhammad Abdurrahman Bin Abdurrahim (tanpa tahun), Tuhfatul Ahwadzy Bi  Syarh Jami’ At-Tirmidzi. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah (Al-Maktabah Asy-Syamilah)


Al Bukhari, Al-Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fi (tanpa tahun). Shahih Bukhari. Mauqi’ Al-Islam: Al-Maktabah Asy-Syamilah


Al-Gaubi, Hamid dkk. (2010), Ensiklopedia Mukjizat Alquran & Hadis; Buku 4: Psikoterapi Islam. Bandung: PT Sapta Sentosa


Asy-Syaibani, Abu Abdullah Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal Bin Hilal Bin Asad (tanpa tahun). Musnad Ahmad. Mauqi’ Al-Islam: Al-Maktabah Asy-Syamilah


Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad.: hffp://pondokhabib.wordpress.com. Menjauihi Sifat Dengki. Tersedia (15 Januari 2013)


Lim, Khalil Idham.: hffp://www.idhamlim.com. Hasad Dengki Warisan Kederhakaan Iblis. Tersedia (15 Januari 2013)